Astabrata Kepemimpinan Ala Hindu


Asta Brata Kepemimpinan Hindu

OLEH:
I DEWA PUTU SUMANTRA

DALAM RANGKA DIKLAT ASTA BRATA IV
DISELENGGARAKAN OLEH PASEMETONAN MAHASISYA HINDU DHARMA (PMHD) UNIVERSITAS WARMADEWA
BERTEMPAT DI WANTILAN PURA SAKENAN DENPASAR
TANGGAL 5 – 7 NOPEMBER TAHUN 2010

Om Swastyastu Namo Siwa-Budhaya,
Om Awignam Astu Namo Siddham.

KATA PENGANTAR

Puja dan puji dipanjatkan ke hadapan Ida Sanghyang Widhi, karena atas restu dan karunia Beliau, tulisan singkat ini dapat dirampungkan meskipun isinya masih sangat jauh dari sempurna.
Tulisan ini dibuat untuk memenuhi permintaan dari Panitia pelaksana Diklat Kepemimpinan Asta Brata V PMHD Unwar, guna mengisi acara Pendidikan dan Latihan (Diklat) Kepemimpinan Asta Brata yang dimaksud. Tulisan ini diberi judul “Asta Brata” Kepemimpinan Ala Hindu yang disesuaikan dengan topik dari kegiatan ini dan sangat mirip dengan tulisan yang dibawakan pada diklat sebelumnya. Secara singkat isi dari tulisan ini memuat pokok-pokok pikiran tentang kepemimpinan terutama yang dimuat dalam ajaran Asta Brata. Tentu dalam menyadur dan mengartikan ajaran mulia ini masih sangat jauh dari ‘baik’ apalagi ‘sempurna’, hal ini sepenuhnya dikarenakan keterbatasan penulis sendiri yang belum paham secara mendalam akan ajaran ini, tapi minimal untuk pengetahuan awal mengenai ajaran Asta Brata, tulisan sederhana ini dapat dimaklumi.
Demikian kata pengantar tulisan ini, semoga ada manfaatnya.

Penulis

I. PENDAHULUAN

Seperti kita ketahui bahwa aneka ragam aktivitas dan kegiatan yang dilakukan dalam suatu komunitas atau organisasi apa saja yang melibatkan banyak orang, sudah pasti tidak dapat dipisahkan dari hubungan antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok, yang satu sama lainnya saling terjalin, saling mempengaruhi secara kompleks, rumit dan rentan dalam usaha mencapai tujuan bersama. Dengan mengetahui sifat hubungan yang kompleks, rumit dan rentan ini sangatlah diperlukan tampilnya seseorang untuk menengahi, membimbing, mengarahkan dan mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut. Seseorang itu lasim disebut Pemimpin.
Begitu pentingnya seorang pemimpin yang mampu memfasilitasi dan memberikan solusi dalam penyelesaian masalah, memajukan organisasi yang dipimpinya, dan untuk menciptakan keamanan, kenyamanan, dan kesejahteraan anggota organisasinya. Akan tetapi sesungguhnya kepemimpinan itu dimulai dari diri sendiri, serta setiap orang perlu dan harus memiliki jiwa kepemimpinan.
Secara umum orang yang melaksanakan kepemimpinan terdiri dari dua jenis yaitu Pemimpin dan Pimpinan. Yang dimaksud Pemimpin adalah orang yang dihormati karena kemampuan individunya yakni berpengetahuan tinggi, orang yang “dituakan” karena dewasa, arif dan bijaksana, dan orang yang mampu mengayomi, dipercaya, disegani, panutan, dan dituruti kata-katanya.
Sedangkan Pimpinan adalah orang yang didudukkan dalam suatu jabatan dalam organisasi karena mampu menjalankan organisasi, berjasa, mempunyai waktu dan tingkat pengabdian yang tinggi, dan memiliki kewenangan administratif.
Perlu diketahui bahwa Asta Brata Kepemimpinan Ala Hindu ini bukanlah sebuah petunjuk pelaksana pemimpin, melainkan adalah sebuah pedoman yang mesti diikuti oleh seorang pemimpin untuk mengatur rencana, sikap dan strategi dalam suatu kegiatan beserta pemecahan permasalahan-permasalahannya, sehingga mendapatkan hasil yang optimal. Dan aspek kepemimpinan ini amatlah luas, namun yang diuraikan di sini hanyalah sebagian kecil dan dasar dari aspek kepemimpinan ala Hindu yang dipetik dan dihimpun dari ajaran Asta Brata, serta diramu sedikit dengan artikel-artikel yang bernuansa kepemimpinan secara Hindu. Aspek-aspek yang dimaksud meliputi; Pengertian Kepemimpinan, Fungsi, Ciri dan Pola Kepemimpinan, dan Kepemimpinan Hindu.

II. PENGERTIAN KEPEMIMPINAN
Kepemimpinan berasal dari kata ‘pemimpin’ yang berarti orang yang mampu mengorganisasikan kegiatan dan mampu mempengaruhi orang-orang lain atau komunitas dalam upaya mencapai tujuan bersama. (Prof. Dr. Simanhadi Widyaprakoso). Sedangkan Kepemimpinan (Leadership) adalah suatu usaha mempengaruhi orang lain / anggota organisasi agar mereka mau mengembangkan kemampuannya ke arah yang lebih baik dalam usaha mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. (Prof. Dr. Widnyana).
Jadi pengertian kepemimpinan dapat disimpulkan adalah sebagai berikut :
• Suatu seni, kesanggupan atau teknik untuk membentuk kelompok, dan orang-orang yang dipimpinnya
mau dan dengan senang hati melaksanakan segala yang diperintahkan oleh pemimpinnya;
• Kecakapan mempengaruhi orang lain / anggota dan menentukan arah tujuan tertentu yang dilakukan
secara manusiawi;
• Kepemimpinan itu akan lebih baik dan obyektif dalam mencapai tujuan apabila dipimpin oleh orang yang
memiliki bakat memimpin.

III. FUNGSI, CIRI DAN POLA KEPEMIMPINAN
1. Fungsi Kepemimpinan
a. Mengarahkan orang lain / organisasi ke arah yang lebih baik untuk mencapai tujuan bersama;
b. Mengembangkan serta menyalurkan kebebasan berfikir dan mengeluarkan pendapat;
c. Mengembangkan suasana yang obyektif bagi orang-orang yang dipimpinnya;
d. Mengusahakan terjadinya perangkuman pendapat (mediasi) dengan sikap saling menghargai;
e. Membantu menyelesaikan suatu masalah, dan mencarikan solusi penyelesaiannya;
f. Mempelopori usaha-usaha yang kreatif positif.

2. Ciri-ciri Kepemimpinan
a. Memiliki kecerdasan intelektual, emosi, dan spiritual yang baik;
b. Percaya pada diri sendiri;
c. Ramah, cakap dan pandai bergaul serta menyenangkan hati;
d. Aktif, kreatif, inisiatif, optimis dan positif;
e. Memiliki keahlian dan keterampilan dalam bidangnya;
f. Sabar dan emosinya stabil;
g. Semangat mengabdi dan jujur;
h. Rendah hati, sederhana dan dapat dipercaya;
i. Berani mengambil keputusan dan bertanggungjawab;
j. Adil dan bijaksana;
k. Desiplin, berpengetahuan dan berpandangan luas;
l. Sehat jasmani dan rohani.

3. Pola atau Tipe Kepemimpinan
Secara umum ada beberapa pola atau tipe kepemimpinan yang dipakai mengendalikan atau menjalankan roda organisasi / kelompok, yaitu pola Otokrasi, Meliterisme, Paternalisme, Demokrasi, dan Kharismatisme. Hal-hal yang menonjol dari masing-masing pola / tipe kepemimpinan tersebut adalah :
a. Pola Otokrasi, bersifat otokratis yaitu menganggap organisasi yang dipimpin adalah milik pribadinya
(otoriter);
b. Pola Meliterisme, bersifat meliteristis yaitu penggunaan sistem perintah atau komando yang lebih
menonjol, perintah tidak boleh dibantah;
c. Pola Paternalisme, bersifat paternalistis yaitu menganggap anggota atau bawahan adalah orang yang
tidak tahu apa-apa dan belum dewasa;
d. Pola Kharismatisme, bersifat kharismatik yaitu menganggap bahwa seorang pemimpin mempunyai
kekuatan gaib (Supranature Power);
e. Pola Demokrasi, bersifat demokratis yaitu menempatkan seorang pemimpin pada posisi yang sangat
mulia dan terhormat.

IV. KEPEMIMPINAN ALA HINDU
Dalam konteks Hindu sebagai sebuah teori kebenaran (agama), terdapat banyak pengetahuan hakiki yang mengandung nilai filsafat, dan kemudian menjadi tuntunan serta pedoman dalam menapak segala aspek kehidupan di bumi ini. Tentu, dalam hal ini yang paling beruntung adalah manusia, karena konon manusia yang paling cerdas di antara mahluk ciptaan Tuhan serta dapat memanfaatkan semua anugrah yang berupa tuntunan dan pedoman hidup ini, yang sekaligus mampu mengatur, mengendalikan, termasuk ‘mempermainkan’ alam dan kehidupan ini dengan segala kesombongan serta keserakahannya.
Dalam ajaran Hindu, banyak sekali terdapat tuntunan yang merupakan rambu dalam tatanan kehidupan agar tercapainya kedamaian yang dipakai oleh para peminpin Hindu, seperti Kepemimpinan Tri Kaya Parisudha, Panca Me, Sila-sila, Asta Brata, Asta Dasa Paramiteng Prabhu, Panca Stiti Dharmaing Prabhu, dan lain sebagainya.
Namun sesungguhnya kepemimpinan itu harus dimulai dari diri sendiri, setiap orang wajib melaksanakan kepemimpinan itu, lebih-lebih bagi seorang pejabat atau orang yang berpredikat sebagai pemimpin maupun pimpinan, seperti kutipan yang mengawali Asta Brata berikut ini,
Nihan kramani dening angdani rat, awakte rumuhun warah ring hayu
Telaste mapageh magem agama, teke rikang amatya mantra tumut.
Arti bebasnya
Beginilah seharusnya tata krama seorang pemimpin dalam menjaga kelestarian jagat. Dirimu sendirilah terlebih dahulu dinasihati dengan nilai-nilai kebenaran / agama.
Setelah dirimu mengerti akan kebenaran, dan melaksanakan kebenaran itu, niscaya bawahan dan masyarakatmu akan percaya dan mengikuti perintahmu.

Prayatna ring ulah atah ngwang prabhu, maweha tuladan tiruning sarat
Yaning salah ulah sasar rat kabeh, pananda pada sang mawang rat tinut
Arti bebasnya
Seorang pemimpin harus hati-hati bertingkah laku, agar memberi teladan yang benar untuk ditiru oleh anggota / masyarakat.
Apabila salah berperilaku, maka kacaulah masyarakat dan dunia ini, karena sang pemimpin akan ditiru oleh masyarakat.
Dalam tuntunan kepemimpinan berdasarkan teori Asta Brata yang bersumber dari kakawin atau Epos Agung Ramayana. Kalau tidak salah, tiga moment penting dalam wiracarita itu menyinggung serta menjelaskan tentang ajaran kepemimpinan Asta Brata, dan itu berarti bahwa betapa penting dan luhurnya ajaran ini.
Secara jelas diceritakan ketika Sang Barata, adik tiri dari Sang Ramadewa datang menghadap kakandanya yang sedang ‘ngalas’ karena mengalah dari perebutan jabatan raja. Dan Sang Barata memohon agar Sang Rama sudi kembali ke Ayodiapura untuk menjadi raja, karena Barata yang dipaksakan oleh ibundanya Dewi Kekayi untuk menjadi raja merasa tidak mampu.
Nah, di sini Sang Ramadewa menunjukkan keagungan dan kebijaksanaannya, berpesan agar Barata mau mengikuti kehendak ibundanya sebagai wujud bakti terhadap orang tua, dan beliau menganugrahkan nasihat kepada adiknya, bahwa dalam memangku jabatan sebagai pemimpin ia harus menganut sifat-sifat dewata agar sukses dan dihormati. Ajaran nasihat itu diberi nama ‘Asta Brata’ yaitu delapan sifat dewa yang harus dipahami dan dilaksanakan dengan taat.
Ajaran ini juga tersirat ketika Sang Gunawan Wibisana merasa ragu saat ditunjuk menjadi raja di Alengkapura oleh Sri Rama setelah Prabhu Rahwana kalah, karena yang akan dipimpinnya adalah para raksasa. Di sini nasihat dan petuah ‘Asta Brata’ dari Sri Rama memantapkan hatinya untuk menjadi raja, karena ia yakin Asta Brata yang merupakan sifat-sifat dewata ‘Daiwi Sampath’ akan mampu mengatasi sifat-sifat raksasa yaitu ‘Ashuri Sampath’.
Nuansa Asta Brata juga terlihat ketika Sang Gunawan Wibisana sambil menangis sedih ‘membesuk’ kakaknya yang sekarat terjepit dua bukit karena dihukum dewata setelah dikalahkan dalam perang oleh Sang Rama Dewa dengan pasukan keranya. Dalam nasihatnya, Sang Gunawan Wibisana mengkritik kakaknya yang dalam menjalankan kepemimpinan sebagai raja Alengkapura, selalu bersikap angkuh, sombong, otoriter, selalu mencari pembenaran pribadi, dan jauh dari nilai-nilai kebenaran sejati (agama).
Kemudian dia menyiratkan pola kepemimpinan yang dianut oleh Sang Rama Dewa, di mana beliau terkenal sebagai seorang pemimpin yang bijaksana, dihormati, dan dicintai oleh rakyatnya serta disayangi oleh para dewata. Pola kepemimpinan yang dijalankan oleh beliau dengan mencontoh delapan sifat-sifat dewata yang disebut dengan Asta Brata, seperti kutipan berikut ini;
Lawan sire kinonaken katwange, apan hana bethara mungwing sire
Wolung hyang apupul yariawak sang prabhu, dumeh sire maha prabhawa sama.
Arti bebasnya
Beliau Sang pemimpin yang agung patut dihormati, karena ada dewata yang mengayomi beliau.
Delapan Dewata berkumpul di jiwa beliau, itu sebabnya beliau sangat beribawa dan disegani.
Hyang Indra, Yama, Surya, Candra, Nila, Kuwera, Baruna, Gni nahan Wolu.
Sire tamake angge sang Bhupati, matang nire ninisti Asta Brata.
Arti bebasnya
Hyang Indra, Yama, Surya, Candra, Bayu, Kuwera, Baruna, Agni itu lengkap ada delapan jumlahnya.
Kedelapan dewata tersebut adalah jiwa sang pemimpin, dan itu berarti sang pemimpin (pasti) melaksanakan asta brata.

Kedelapan dewata beserta sifat beliau yang termasuk dalam ajaran Asta Brata tersebut adalah sebagai berikut :
1. Brata Hyang Indra, beliau adalah dewa hujan, menciptakan air, air kehidupan dan memberikan kesejukan bagi mahluk di alam ini, di samping itu air selalu mengalir ke tempat lebih rendah yang menunjukkan bahwa sifat rendah hati serta mengayomi rakyat kecil, air berasal dari bawah kemudian naik ke angkasa berupa uap bersatu dalam bentuk mendung, lalu turun lagi dalam bentuk hujan.
Seorang pemimpin harus sadar bahwa ia berasal dari rakyat, ketika berkuasa dia harus benar-benar mengabdi demi kepentingan rakyat yang dipimpinnya, sebab suatu saat dia pasti akan kembali lagi sebagai rakyat. Juga kalau diperhatikan, putaran kucuran air pancuran di telaga selalu berputar ke kanan, itu bermakna baik (kanan) bahwa seorang pemimpin harus berpikir, berkata, dan berbuat yang positif. Air juga mampu membersihkan dan mensucikan noda-noda dunia.
Namun di balik itu air juga menyimpan kekuatan yang maha dahsyat, mampu menghempaskan dan menghanyutkan apa saja, ingat Dwarawati negaranya Prabhu Kresna musnah karena (air bah) banjir, ingat pula Aceh, Wasior dan tempat-tempat lainnya yang diluluhlantakkan oleh air.
2. Brata Hyang Yama, beliau adalah seorang Hakim Agung yang selalu menjatuhkan hukuman bagi orang yang bersalah dan pelaku kejahatan, lebih-lebih kejahatan yang sampai membuat rusak alam beserta kehidupan ini. Segala bentuk kejahatan dan eksploitasi terhadap hidup dan kehidupan ini selalu dihukumnya secara adil sesuai perbuatannya (karma-pahala). Beliau amat tegas dan tidak pandang bulu, tidak tebang pilih dalam menjalankan tugas (menghukum).
3. Brata Hyang Surya, adalah sinar dan penerangan dalam kehidupan ini. Dengan sinarnya beliau mengisap air yang diciptakan oleh Hyang Indra secara perlahan dan mengubahnya menjadi energi kehidupan bagi semua mahluk. Beliau adalah saksi dari segala perbuatan manusia. Di samping itu beliau sangat taat akan waktu dan tepat waktu (on time), dan tidak pernah berhenti ‘bekerja’ menyinari alam sepanjang waktu. Seorang pemimpin harus mampu berperilaku seperti matahari serta menjadi inspirasi, energi untuk memotivasi dan menjadi contoh desiplin kepada bawahannya.
4. Brata Hyang Candra (Rembulan), sikap dan penampilan cahaya beliau yang halus dan menyejukkan dengan senyum yang amat manis, begitu teduh bak tersiram air surgawi bagi yang menikmati sinarnya. Di samping itu dengan kelemahlembutan sinar beliau mampu memberi penerangan dan tuntunan bagi orang yang sedang tersesat dalam kegelapan. Seorang pemimpin harus mampu menciptakan kesejukan dan kenyamanan suasana, mampu memberi tuntunan dan pencerahan bagi orang sedang khilaf.
5. Brata Hyang Bayu, ibarat angin beliau ada di mana-mana dan selalu mengawasi keadaan demi ketentraman kehidupan mahluk dan alam semesta ini. Di samping itu beliau adalah nafas kehidupan bagi semua mahluk hidup. Seorang pemimpin yang baik harus selalu waspada, tahu keadaan yang sebenarnya, dan mengerti kebutuhan-kebutuhan dasar rakyatnya sehingga pemimpin ibarat nafas bagi rakyat. Tetapi apabila Sang Bayu murka, apapun tidak mampu menahan tiupan beliau. Ingat El Nino atau puting beliung yang mampu menghancurkan serta menerbangkan pohon-pohon dan rumah-rumah besar.
6. Brata Hyang Kuwera, beliau menyiapkan segala macam makanan, minuman dan kesenangan. Kesejahteraan dan kebahagiaan bagi mahluk adalah tujuan beliau dengan menyediakan sandang pangan dan papan serta keindahan untuk dinikmati oleh semua mahluk hidup. Seorang pemimpin harus mampu memberikan kesejahteraan, kesenangan, dan kebahagiaan kepada rakyat. Tidak boleh egoistis, maunya enak sendiri dengan menelantarkan rakyat, itu perilaku korup namanya sebab rakyat berhak juga menikmati kesejahteraan dan kebahagiaan.
7. Brata Hyang Baruna dengan senjata saktinya yang bernama Naga Pasa, beliau selalu mengikat kejahatan agar tidak sampai berkeliaran, mengikat niat-niat jahat agar tidak sampai membuat kejahatan yang dapat membahayakan dunia ini. Seorang pemimpin harus selalu waspada, tidak lengah, dan bertindak preventif terhadap hal-hal yang membahayakan. Bukankah tindakan pencegahan jauh lebih bijaksana daripada penyelesaian masalahnya, karena lebih efektif dan efisien.
8. Brata Hyang Agni, beliau adalah dewa api yang mampu menghanguskan kejahatan. Setiap kejahatan adalah musuh yang harus dibakar dan dihanguskan, tidak ada kejahatan yang mampu menahan panas api beliau. Di samping itu beliau memiliki semangat yang tinggi dan berwawasan luas, ibarat kobaran api selalu membubung ke atas dan asapnya menyebar di angkasa. Spirit dewa api harus diteladani oleh sorang pemimpin, harus tegas terhadap kejahatan bila perlu dimusnahkan. Selalu bersemangat dan memiliki wawasan yang luas, caranya tentu dengan banyak belajar.

Demikianlah hendaknya perilaku seorang pemimpin, ia selalu mengutamakan kemuliaan dengan mencontoh dan mengamalkan sifat-sifat kedelapan dewata tersebut. Pemimpin yang bijaksana akan malu dan merasa tidak berguna bila tidak mampu menjalankan negaranya/organisasinya serta mengayomi dan membahagiakan hati rakyatnya. Dia akan selalu berusaha menyenangkan hatinya sendiri dengan jalan mengabdi dengan tulus ‘melayani’ rakyatnya (mengawe sukane wong len) sehingga rakyat yang dilayaninya menjadi bahagia. Ibarat manik, intan, atau mutiara, permata pada cincin emas yang indah, dapat menyenangkan hati pemakai dan yang memandanginya.

V. PENUTUP
Sebagai seorang pemimpin yang arif dan bijaksana, tuntunan teori/ajaran Asta Brata ini tentu dapat dipahami atau minimal sebagai ilham/inspirasi serta sedapat mungkin diaplikasikan secara riil dalam aktivitasnya di suatu komunitas atau organisasi apapun, sepanjang kita mau dan mampu memaknai ajaran luhur tersebut.
Tambahan pengetahuan ini sudah pasti akan sangat bermanfaat terutama dalam tugas kita sebagai pemimpin atau pimpinan, minimal untuk memimpin diri sendiri. Semoga.

Bahan Bacaan
Ric Estrada (Alih Bahasa : Tatang Setia M.), Kepemimpinan Dalam Konperensi (Confrence
Leadership), Jakarta : 1982
Simanhadi Widyaprakoso, Kepemimpinan (Materi Diklatsar Metodologi P2M Univ. Jember)
Widnyana, Kepemimpinan dan Sosiologi Pedesaan (Materi Pembekalan KKN Unwar 88/89)
______________, Kakawin Ramayana, (Proyek Terjemahan: Dinas P&K Prop.Bali 1986)
______________, Majalah, Koran, dan sumber lain yang terkait.

BEBERAPA HAL YANG JUGA PERLU DIPERHATIKAN
TAHU DIRINYA TAHU…..TIDAK TAHU DIRINYA TAHU
TAHU DIRINYA TIDAK TAHU….TIDAK TAHU DIRINYA TIDAK TAHU
• Seseorang yang cerdik cendekiawan, tahu dan menyadari dirinya berpengetahuan tinggi, kepada orang
itulah kita patut bertanya dan minta nasihat (berguru).
• Bertemu dengan orang yang tidak menyadari dirinya cerdas, pintar, dan berpengetahuan, ingatkanlah
kepadanya bahwa di dalam dirinya tersimpan potensi luar biasa yang bermanfaat bagi umat manusia.
• Hormatilah orang yang tahu dirinya bodoh dan mengakui kebodohannya, karena orang tersebut adalah
orang jujur.
• Berhadapan dengan orang yang bodoh tapi sok tahu, atau orang pintar yang pura-pura bodoh,
menjauhlah dari orang tersebut wahai putra Pandu, karena orang tersebut sangat berbahaya serta
menjadi sumber bencana bagi hidup dan kehidupan ini. (Bhagawadghita).

Puri, pura, para, purana, puruhita
(Konsep Kepemimpinan A.A. Ngr. Gede Kusuma Wardana)

• Seorang pemimpin yang ingin rakyat dan negaranya aman sentosa hendaknya melaksanakan P-5 dan mengembangkannya secara harmonis. P-5 tersebut adalah : Puri, Pura, Para, Purana, dan Parempuan. Puri artinya benteng kerajaan (negara) dan istana raja sebagai pusat kepemimpinan, karena di sana ada raja (pemimpin). Pura adalah benteng keyakinan, spiritual, kepercayaan terhadap yang maha segalanya. Para adalah bawahan yang menjunjung pemimpin, rakyat yang dianggap saudara (para semeton). Purana adalah benteng moral, karena memuat segala aturan, norma dan hukum yang berlaku serta dijalankan dengan baik, adil dan bijaksana. Dan yang terakhir adalah Puruhita. Sebagai manusia biasa yang penuh dengan keterbatasan, seorang pemimpin harus menyadari betapa pentingnya sebuah nasihat. Tentu nasihat yang dapat memberikan solusi yang baik ketika mengalami masalah. Nasihat ini biasanya datang dari kaum arif bijaksana seperti para Rsi, para Empu, Begawan sebagai penasihat raja (Bagawanta). Janganlah malu dan merasa diri hina minta nasihat kepada siapapun, karena nasihat tersebut dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan untuk mendapatkan keputusan yang sebaik-baiknya. Keharmonisan hubungan Pimpinan (Puri), Tuhan (Pura), Rakyat (Para), Norma, Hukum (Purana), dan Orang Bijak (ParaEmpuan) niscaya akan menciptakan negara yang aman sentosa (gemah ripah loh jinawe).
Seorang Raja (Puri) sebagai pusat kepemimpinan, senantiasa mengadakan hubungan baik dengan Tuhan (Pura) dan rakyatnya (Para). Dalam menjalankan kepemerintahan serta menjaga keharmonisan hubungan ini, pemimpin (raja) berpedoman kepada purana yang memuat segala macam aturan demi keamanan dan ketertiban dalam segala hal. Pemimpin yang mempunyai kewenangan dalam mengelola negara dan rakyat, ia harus didampingi oleh seorang yang arif bijaksana (Parempuan) sebagai penasehat, agar sebelum mengambil suatu keputusan yang menentukan nasib bangsa dan negara, harus sudah melalui pertimbangan dan kajian yang mendalam untuk menghindari kesalahan yang fatal dan terkesan sewenang-wenang atau raja lalim. Kalau ini dapat dijalankan dengan baik (berputar ke kanan) akan menimbulkan bentuk swastika sebagai simbol keseimbangan dan keharmonisan, dari sini akan tercipta rasa cinta negeri, bela negara dengan nasionalisme yang tinggi.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s