Sarjana Tidak Selayaknya Menganggur


Mengapa Sarjana Menganggur?
Oleh: Drs. H . Sukmana

Editor: I Made Dwija Suastana, S.H.


SEKITAR 3 juta sarjana di Indonesia berstatus pengangguran karena belum tertampung lapangan kerja yang ada. Perlu segera dicari terobosan cerdas untuk menanggulangi dan mengurangi para pengangguran terdidik tersebut. Pengangguran sebenarnya bukanlah “penyakit” yang perlu ditakuti apabila kita memiliki itikad dan tekad untuk keluar dari label nganggur. Jadi para sarjana harus mempersiapkan dirinnya untuk tidak nganggur dengan cara jitu yaitu: raih gelar sarjananya secara tepat waktu, isi diri dengan skill tambahan, perluas jaringan informasi dan jangan lupa berdoa.

Menurut Adi Sasono, 3 juta sarjana menganggur karena lebih mementingkan aspek kepintaran dengan mengesampingkan kreativitas. “Di era persaingan ini bukan sebatas pintar, tetapi juga kreatif. Sebagian sarjana belum siap menghadapi persaingan,” ujarnya (“PR”, 29/5/2007).

Banyaknya sarjana yang menganggur cukup memprihatinkan. Sarjana adalah orang yang terdidik, tetapi mengapa masih menganggur? Pada akhirnya, timbul istilah pengangguran terdidik. Seharusnya para sarjana bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain yang kurang terdidik. Minimal ia sendiri bisa bekerja setelah selesai kuliah. Akan tetapi pada kenyataannya, jangankan yang bukan sarjana, sarjana saja sulit mendapat pekerjaan.

Bila kita perhatikan ada beberapa faktor yang menyebabkan para sarjana masih menganggur. Faktor penyebabnya bisa yang terdapat dalam diri sarjana maupun yang datang dari luar. Memang masalah pekerjaan ini cukup kompleks karena untuk bekerja, banyak persyaratan yang harus dipenuhi. Seseorang bisa bekerja apabila ada kesesuaian atau kecocokan antara karakteristik diri dengan kondisi pekerjaan. Pada gilirannya, walaupun ada lowongan pekerjaan apabila tidak ada kecocokan antara calon tenaga kerja dengan kondisi pekerjaan, maka lowongan kerja tersebut tetap tidak bisa dimasuki.

Sebagaimana diungkapkan di atas, para sarjana kurang kreatif dalam menciptakan lapangan pekerjaan. Jadi, tidak cukup mengandalkan kepintaran dari segi akademik, tetapi juga dituntut berpikir bagaimana membuka peluang usaha. Di samping itu, sebagian sarjana belum siap menghadapi persaingan, baik di dalam ne-geri maupun di luar negeri. Seperti kita maklumi bahwa persaingan kerja dari hari ke hari semakin ketat. Jadi, hanya sarjana yang siap bersainglah yang dapat meraih peluang kerja.

Kemudian, di antara sarjana ada yang belum mempunyai keterampilan khusus (siap kerja). Hal ini terjadi terutama pada sarjana yang berasal dari jurusan atau program studi yang termasuk kelompok ilmu murni.

Sarjana akan mengalami kesulitan untuk kerja, baik yang akan menjadi pegawai (negeri atau swasta) maupun yang akan berwiraswasta. Untuk bekerja dituntut mempunyai keterampilan khusus sesuai dengan bidang pekerjaan yang akan ditekuni. Apalagi ada perusahaan yang mensyaratkan pengalaman kerja beberapa tahun, sementara sarjana yang baru lulus belum mempunyai pengalaman kerja.

Sementara itu, sarjana yang akan membuka usaha sendiri atau berwiraswasta kendalanya belum mempunyai modal yang cukup. Bagaimana bisa membuka usaha bila modal tidak ada. Mau pinjam ke lembaga keuangan harus ada jaminan.

Dengan demikian untuk membuka usaha baru cukup sulit bagi sarjana yang kurang modal, kecuali ada pihak lain yang menaruh kepercayaan untuk menjalankan usaha tertentu.

Faktor lain, sebagian sarjana banyak yang berminat menjadi pegawai negeri, sementara lowongan untuk menjadi pegawai negeri sangat terbatas. Dengan kata lain, banyak pendaftar (sarjana) tidak sebanding dengan sedikitnya posisi yang ada atau dibutuhkan. Misalnya, pendaftar sampai ratusan, sementara lowongan yang ada hanya untuk satu atau dua orang. Di sini untuk menjadi pegawai negeri saingannya sangat ketat. Selain faktor di atas, tentu masih ada faktor lain yang menyebabkan sulitnya mencari pekerjaan.

Untuk mengatasi permasalahan di atas (masalah ketenagakerjaan) , ada beberapa usaha yang dapat dilakukan para sarjana yang masih menganggur untuk bisa terjun ke dunia kerja. Sarjana harus kreatif dalam mencari peluang kerja. Peluang dan informasi kerja bisa diperoleh dari orang lain, media massa, baik cetak maupun elektronik. Misalnya dari koran, majalah, tabloid, televisi, radio, internet, dan lain-lain.

Bisa juga sarjana mengembangkan hobi yang telah ditekuni. Siapa tahu hobi yang selama ini hanya untuk kesenangan bisa ditingkatkan menjadi suatu pekerjaan tetap. Hobi bisa jadi profesi. Tidak sedikit sarjana yang kreatif, bisa bekerja hanya berawal dari hobi. Untuk ini ada sebuah ungkapan: “Sarjana sarat dengan ilmu dan penuh idealisme. Jadi karyawan dituntut karya nyata dan berpikir pragmatis”.

Menjalin kenalan (koneksi) dengan orang yang sudah mempunyai pekerjaan atau pengusaha. Lowongan kerja bisa saja datang dari orang lain yang sebelumnya tidak kita sangka-sangka. Semakin banyak kenalan, akan semakin banyak kesempatan untuk mendapatkan informasi mengenai dunia kerja. Apabila kita sudah banyak dikenal orang, suatu saat kalau ada lowongan kerja, orang yang kita kenal tersebut akan memberitahukan dan menawarkannya kepada kita.

Untuk memudahkan mencari pekerjaan harus ditunjang oleh keterampilan. Semakin terampil dalam suatu bidang, akan semakin terbuka lebar kesempatan untuk kerja. Untuk itu, setiap saat harus terus mengasah, meningkatkan, dan menambah keterampilan. Meningkatkan keterampilan bisa melalui diklat (pendidikan dan latihan) atau kursus sesuai dengan potensi, bakat, dan minat. Selanjutnya, untuk mengetahui dan menguji keterampilan, alangkah baiknya mengikuti lomba yang sering diadakan dalam masyarakat.

Kemudian, untuk mendapatkan peluang kerja tidak ada salahnya mengikuti magang dalam bidang pekerjaan yang diminati. Melalui magang (melihat orang lain bekerja, terus kita mempraktikkannya) , lama-kelamaan kita akan bisa melakukan suatu pekerjaan, sehingga pada saat betul-betul bekerja tidak akan merasa ragu dan kaku lagi untuk memulai pekerjaan. Misalnya mengikuti magang di sebuah perusahaan selama beberapa bulan.

Untuk menambah ilmu pengetahuan dalam bidang pekerjaan hendaknya dilakukan secara otodidak, yaitu belajar mandiri dengan banyak membaca buku. Biasanya di toko buku banyak buku yang membahas dan memaparkan berbagai jenis pekerjaan atau keterampilan. Dengan banyak membaca buku, maka wawasan teori atau ilmu pengetahuan dalam suatu bidang pekerjaan akan berkembang. Pada gilirannya dapat dijadikan dasar untuk membuka peluang usaha/pekerjaan sesuai dengan hobi yang selama ini ditekuni.

Akhirnya, untuk mendapatkan pekerjaan, berpulang kepada diri kita (sarjana) masing-masing. Semakin kreatif dalam menciptakan lapangan pekerjaan, akan semakin cepat mendapatkan pekerjaan tetap. Dan sarjana degan adanya kemajuan teknologi sekarang, tidak selayaknya menganggur, seorang sarjana harus mampu berfikir kreatif, inovatif dan memiliki sikap pantang menyerah alias pekerja keras. Sikap milih-milih pekerjaan sejatinya hanya akan menimbulkan pengangguran era baru yang tidak terkendali. Oleh sebab itu, maka kepercayaan diri seorang fresh graduate dari sebuah perguruan tinggi harus ditopang oleh penguasaan bidang ilmunya, tambahan keterampilan baik itu teknologi informasi, bahasa, dan kemampuan lainnya.

Tidak sedikit pekerjaan yang berhasil diawali dari suatu hobi yang dikembangkan secara kreatif. Selamat bekerja!

* Disadur dan dilengkapi tanpa mengurangi konteks tulisan

* Dikutip dari artikel yang termuat oleh rekan2 KMHDI dalam mailing list

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s