MAKNA SEMBAHYANG


MAKNA SEMBAHYANG
Oleh I Dewa Putu Sumantra
(Disampaikan dalam Dharma Tula PMHD, 27 Mei 2010 di Wantilan Unwar)

Salah satu dari ajaran Tri Hita Karana adalah hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan. Hubungan harmonis tersebut sangat diperlukan karena sang Atman yang bersemayam di tubuh atau raga manusia adalah percikan terkecil dari Paramatman yaitu Ida Hyang Widhi. Namun kesucian Atman selalu diselimuti oleh kekotoran yang diakibatkan oleh tidak terkendalinya Tri Guna, Sad Ripu, Panca Indriya, dan Sapta Timira yang ada pada diri manusia. Untuk menyucikan Atman agar bersinar lagi dapat dapat bersatu lagi dengan sumbernya, maka manusia harus berusaha mengendalikan segala factor negatif yang menyengsarakan hidup manusia sehingga akan tercapai kebahagiaan yang tiada tara yaitu Mokhsartam Jagadhitam Ya Ca Iti Dharma. Salah satu caranya adalah dengan bersembahyang.

Sembahyang berasal dari kata sembah dan hyang. Sembah adalah pikiran perilaku yang tulus ikhlas untuk sujud bakti, doa dan memuja, sedangkan hyang berarti mulia, suci, agung dan tehormat. Dengan demikian, sembahyang berarti sikap tulus ikhlas untuk sujud bakti, berdoa dan memuja kepada yang mulia, agung dan suci yaitu Sanghyang Widhi Wasa sebagai sumber segala sumber, Dewa-dewi sebagai sinar suci dan kekuatan Sanghyang Widhi, dan Bethara sebagai kekuatan pelindung hidup manusia. Dan tempat yang paling baik untuk sembahyang adalah Pura atau pemerajan karena diyakini sebagai tempat suci.
Sembahyang yang paling baik dilakukan pada hari-hari besar dan suci menurut pawukon seperti Buda Kliwon Galungan, Tumpek Kuningan, Saraswati, dan lain-lain, dan menurut perhitungan sasih seperti Purnama dan Tilem. Sarana persembahyangan pokok berjumlah lima unsur yaitu Patrem (daun), Phalem (buah), Puspem (bunga), Toyem (air), dan Dupem (dupa). Semua sarana persembahyangan baik berupa banten, maupun bentuk persembahan lain, esensinya adalah kelima unsur tersebut yang diramu dengan kreasi bernilai estetis.
Tata cara sembahyang yang baik dapat dilakukan secara berurutan sebagai berikut.
1. Niat tulus, yaitu fokuskan pikiran akan melakukan persembahyangan dengan mengabaikan pikiran-pikiran
yang tidak perlu.
2. Mandi dan berbusana yang bersih dan wajar agar mendapatkan kenyamanan raga serta menjaga pikiran,
perkataan, dan perilaku yang baik.
3. Mempersiapkan sarana persembahyangan.
4. Langsung menuju ke Pura atau tempat persembahyangan.
5. Sesampainya di tempat persembahyangan, duduk dengan sikap asana bagi yang laki-laki atau
padmasana bagi yang perempuan.
6. Melakukan proses puja tri sandya.
7. Setelah puja tri sandya, dilanjutkan dengan kramaning sembah atau panca sembah.
8. Yang pertama sembah puyung, maksudnya adalah memfokuskan pikiran kepada Sanghyang Widhi agar
beliau berkenan hadir, dengan simbol kosong atau puyung.
9. Sembah yang kedua memakai bunga yang ditujukan kepada Dewa Surya sebagai saksi bahwa kita
sedang melakukan doa dan sembah bakti.
10. Sembah yang ketiga memakai bunga yang ditujukan khusus kepada para dewa atau bethara yang
distanakan di tempat kita sembahyang.
11. Sembah yang keempat memakai bunga warna-warni atau kawangen yang ditujukan kepada semua dewa
yang disebut dewata nawa sanga dan bethara-bethari lainnya agar berkenan menganugrahi kesehatan,
keselamatan, dan kesejahteraan kepada semua mahluk dan alam semesta.
12. Sembah terakhir kembali dengan puyung, yang bermakna melepaskan fokus pikiran kita dan
mengembalikan Sanghyang Widhi ke payogan beliau setelah pada sembah puyung pertama, beliau kita
mohon datang.
13. Selanjutnya kita mohon tirta dengan meketis tiga kali sebagai penyucian idep, diminum tiga kali sebagai
penyucian bayu, dan meraup/mesugi tiga kali yang bermakna menucikan sabda.
14. Proses persembahyangan terakhir adalah mebija yang ditempel di kening, batang tenggorokan dan
“diuntal”. Bija berarti biji atau benih yang bermakna menumbuhkan benih-benih kesucian pada diri masing-
masing.

Persembahyangan menuju kesucian ini hendaknya dilakukan secara rutin. Memang pada awalnya terasa berat karena malas, harus dipaksakan karena suatu kewajiban. Setelah itu menjadi akan menjadi kebiasaan yang selanjutnya menjadi suatu kebutuhan pribadi. Akan terasa sangat jelek dan ada yang kurang bila kita tidak dapat bersembahyang. Untuk meningkatkan kecerdasan spiritual salah satunya dilakukan dengan cara sembahyang. Selamat melakukan persembahyangan.

One response to “MAKNA SEMBAHYANG

  1. materi yang disajikan sangat mendasar,dan disampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti,sukma.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s