AKTUALITAS MAKNA AJARAN SIWARATRI


OLEH:
I DEWA PUTU SUMANTRA

DALAM RANGKA DHARMA TULA
DISELENGGARAKAN OLEH PASEMETONAN MAHASISYA HINDU DHARMA (PMHD) UNIVERSITAS WARMADEWA
BERTEMPAT DI WANTILAN KAMPUS UNWAR
TANGGAL 3 JANUARI TAHUN 2011

Pengantar

Paper kecil ini ditulis untuk dibawakan pada acara “Dharma Tula” serangkaian dengan perayaan Siwa Ratri di kampus Unwar pada hari Senin, 3 Januari 2011. Tulisan ini diberi judul “Aktualitas Makna Ajaran Siwa Ratri”. Karena pentingnya pancingan terhadap generasi muda pada masalah budaya dan agama, maka saya sejenak melupakan kebodohan saya, dan dengan kerendahan hati mencoba menyusun paper ini yang sudah tentu hasilnya sangat keruh dan kacau.balau Untuk itulah saya mohon permakluman kepada para sujana yang berkompeten di bidang ini. Terimakasih.


1. Pendahuluan

Pada umumnya pelaksanaan hari raya agama Hindu dilakukan dalam bentuk ritual keagamaan yang berlaku berdasarkan sistem masyarakat adat di mana ritual tersebut dilaksanakan. Namun jangan berhenti pada ritual itu saja, hendaknya dilanjutkan dengan penggalian filosofis dan makna aktual dari proses ritual tersebut. Sebab agama Hindu dalam pengajaran dan penerapan ajaran agama, juga melalui simbol-simbol semiotika yang harus digali mengenai ajaran yang tersembunyi tersebut agar mendapatkan makna logis untuk disepakati dan diterapkan bersama. Termasuk juga perayaan Siwa Ratri ini.
Secara garis besar ajaran Siwa Ratri ini bersumber dari empat sumber yaitu Skanda Purana, Garuda Purana, Siva Purana, dan Padma Purana. Skanda Purana bercerita tentang percakapan Lomasa dengan para Rsi yang menceritakan kejahatan Si Canda yang membunuh segala mahluk bahkan brahmana, namun akhirnya ia sadar dan mengerti tentang kebenaran melalui ajaran Siwa Ratri. Garuda Purana menceritakan tentang jawaban Siwa atas pertanyaan Dewi Parwati bahwa ajaran Siwa Ratri adalah utama agar roh terbebas dari hukuman neraka. Siwa Purana menceritakan percakapan Suta dengan para Rsi tentang pelaksanaan Siwa Ratri, dan kekejaman Rurudruha yang menjadi sadar dan pikirannya jernih setelah melaksanakan ajaran Siwa Ratri. Dan Padma Purana merupakan sumber yang paling populer dalam pelaksanaan Siwa Ratri di Nusantara. Ajaran Siwa Ratri yang berjudul Siwa Ratri Kalpa diciptakan oleh Mpu Tanakung, sampai saat ini masih menjadi pedoman dalam setiap pelaksanaan Siwa Ratri di Bali dan Indonesia.
Siwa Ratri Kalpa karya Mpu Tanakung ini berbentuk kekawin yang terdiri dari 20 wirama dan 232 bait, merupakan untaian narasi yang sarat dengan nuansa estetis, baik dalam lantunan wiramanya maupun kedalaman makna yang dikandungnya. Tujuan dari Mpu Tanakung mempergunakan metode estetis dalam menyebarkan ajaran Siwa ratri ini adalah agar lebih menarik dan sekaligus mengajak umat manusia untuk berkesenian sehingga dalam pelaksanaannya tidak melulu dalam suasana serius religius, walaupun pada hakikatnya kita harus serius dalam menangkap makna ajaran ini. Di samping itu, yang khas dan unik, Mpu Tanankung berani menampilkan tokoh dalam ceritanya adalah Si Lubdaka, seorang rakyat jelata yang papa dengan pekerjaan sebagai pemburu yang banyak membunuh satwa, akhirnya rohnya mendapatkan sorga setelah ia mati.
Dari uraian di atas sangat jelas kita lihat bahwa orang yang jahat dan hidupnya penuh dengan noda dosa, akhirnya mendapatkan kebahagiaan di sorga hanya gara-gara begadang sepanjang malam pada perayaan Siwa Ratri. Benarkah demikian adanya?. Hal ini perlu pengkajian-pengkajian lengkap berdasarkan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual.

2. Sinopsis

Kekawin Siwa Ratri Kalpa menceritakan, pada pagi hari panglong ping 14 atau purwanining Tilem Sasih Kapitu Si Lubdaka pergi ke tengah hutan untuk berburu binatang (satwa). Ia berjalan seorang diri menuju arah timur laut, meliwati tempat-tempat pemujaan yang sudah mulai rusak dan kotor, atapnya berserakan, dan gapuranya rubuh pertanda bahwa orang sudah jarang datang, memperhatikan dan merawat tempat suci tersebut.
Setelah seharian berburu di tengah hutan, tak seekor pun binatang ditemukannya hingga hari menjelang malam. Ia tersesat ketika hendak kembali pulang, berputar-putar di tengah hutan dan akhirnya ia menemukan sebuah telaga yang terdapat pohon bila atau maja ditepi telaga tersebut. Karena kemalaman dan takut dari sergapan macan (wiagra) yang banyak berkeliaran di sana, maka naiklah dia ke pohon Bila. Untuk menghilangkan kantuk dan takut terjatuh dari pohon, lalu ia memetik daun bila tersebut helai demi helai. Tanpa disadarinya bahwa daun bila yang telah dipetiknya berjumlah 108 helai, dan jatuh menimpa Siwa Lingga yang ada di tengah telaga itu.
Ketika pagi dan mentari sudah muncul di ufuk timur, Lubdaka turun dari pohon Bila dan langsung pulang meninggalkan keindahan hutan di pagi hari. Sampai di rumahnya hari sudah mejelang sore, dan ia disambut oleh anak isterinya. Tapi alangkah sedih hati keluarganya mengetahui Si Lubdaka tertimpa nasib apes karena tidak satu pun mendapatkan hasil buruan.
Sesuai dengan perjalanan waktu, tibalah saatnya Si Lubdaka meninggal dunia karena sakit. Rohnya melayang-layang di angkasa tidak tentu arah. Maka datanglah pasukan Yamabala menjemput dan menangkap roh Lubdaka untuk dijebloskan ke kawah neraka karena dosa-dosa Lubdaka yang selalu berbuat kejahatan terhadap mahluk hidup. Di pihak lain, atas perintah Betara Siwa, pasukan Ganabala agar menjemput roh Lubdaka yang sedang disakiti oleh Yamabala, karena Lubdaka pernah melaksanakan barata Siwa Ratri, untuk dibawa ke sorgaloka. Terjadilah pertempuran antara pasukan Yamabala dengan pasukan Ganabala yang masing-masing menjalankan tugas. Akhirnya pasukan Ganabala memenangkan pertempuran itu dan roh Lubdaka diboyong ke sorgaloka dan disambut oleh widyadara-widyadari serta mengantarkan rohnya ke sorga. Dan roh Lubdaka bahagia selama berada di sorgaloka.

3. Makna Aktual
a. Siwa Ratri terdiri dari dua kata yaitu Siwa dan Ratri. Kata Siwa mengandung pengertian baik hati, suka memaafkan, memberikan harapan, menyelamatkan, dan membahagiakan. Sedangkan ratri berarti malam. Dengan demikian secara umum Siwa Ratri berarti malam untuk menyelamatkan manusia dari kegelapan pikiran dan hati serta memberi harapan menuju jalan yang terang untuk mencapai tujuan yaitu kebahagiaan.
b. Purwanining Tilem Kepitu atau panglong ping 14 Sasih Kepitu menurut perhitungan wariga adalah malam yang paling gelap dalam setahun perhitungan sasih, puncak gelapnya alam. Kepitu berarti bulan ketujuh. Malam ini sering disebut peteng pitu pada buana agung, dan kalau dihubungkan dengan keberadaan diri manusia (buana alit) terdapat sapta timira atau tujuh macam kemabukan, kegelapan yaitu Surupa (mabuk kerupawanan), Dana (mabuk kekayaan), Guna (mabuk kepintaran), Kulina (mabuk karena kebangsawanan), Yowana (mabuk karena keremajaan), Sura (mabuk karena minuman keras), dan Kasuran (mabuk kemenangan). Tujuh kegelapan itu terjadi karena kesimpangsiuran struktur alam pikiran yang dikuasai oleh panca indrya sehingga menimbulkan egoisme dan ambisi yang tidak terkendali.
c. Jagra berarti tidak tidur, terjaga, awas, waspada, atau sadar. Dalam situasi apapun jagra atau terjaga, awas, waspada, dan sadar ini sangat diperlukan demi keselamatan dan keamanan. Manusia yang selalu dikuasai dan dibelenggu oleh panca indryanya disebut orang yang sedang tidak terjaga, tidak sadar, di luar kesadaran jiwa. Terjadinya ketidaksadaran jiwa karena ulah kita sendiri yang membiarkan belenggu yang dibuat oleh panca indrya dengan memperkuat musuh-musuh yang ada dalam diri manusia sendiri. Niti Sastra menyebutkan, “tan hana satru menglewihaning ana geleng ri ati” yang artinya tidak ada musuh melebihi musuh yang menyelinap di dalam hati. Sedangkan di dalam kekawin Ramayana disebutkan, “Ragadi musuh mapara ri hati, ya tonggoania tan madoh ring awak” yang artinya ragadi (nafsu) adalah musuh utama di hati tempatnya tidak jauh dari badan. Musuh-musuh dalam hati itu disebut Sad Ripu yang meliputi Kama (nafsu), Lobha (rakus), Krodha (marah), Moha (kebingungan), Mada (kemabukan), dan Matsarya (iri hati).
d. Upawasa artinya tidak makan. Namun makna sesungguhnya bagaimana kita dapat mengendalikan nafsu makan kita. Bisa membedakan mana makanan yang bisa dan layak dimakan sesuai dengan kondisi tubuh kita, atau mana makanan yang memang makanan hak kita. Dalam realita kehidupan sekarang banyak sekali orang makan seenaknya, semua dimakan walau bukan haknya sekalipun, melalui kejahatan-kejahatan yang dilakukan seperti korupsi, menipu, merampok dan sebagainya, yang semua itu terkait dengan urusan perut.
e. Mona brata artinya tidak bicara, mengandung makna dalam berbicara berdasarkan atas kesadaran dharma atau kebenaran. Dalam Niti Sastra disebutkan “Wasita nimitanta manemu laksmi” (karena bicara kita menemukan kebahagiaan), “Wasita nimitanta manemu duhkita” (karena bicara kita menemukan kesengsaraan), dan “Wasita nimitanta pathi kapanggih” (karena bicara ajal kita dapatkan). Dengan demikian monobrata lebih menyiratkan pada kesadaran, kalau bicara peliharalah lidah. Bhagawad Gita Bg.XVII:15 menyebutkan: “Berbicara tanpa menyinggung, melukai hati, dapat dipercaya, lemah lembut, berguna dan berdasarkan kitab suci (kebenaran), itulah yang disebut dengan bertapa dengan ucapan.
f. Dana Punya (dari Sulinggih, Pemangku atau Tokoh Agama) artinya pemberian tulus sebagai bentuk pengamalan ajaran dharma. Ajaran dana punya ini meliputi dharmadana atau pemberian dalam bentuk wejangan atau nasihat bagi mereka yang memerlukan, widyadana yaitu pemberian pengetahuan atau pendidikan sehingga lebih pandai dan menguasai ilmu pengetahuan, dan arthadana yaitu pemberian tulus berupa artha yang bertujuan menyelamatkan orang lain dari kesengsaraan. Ajaran dana punya bertujuan untuk membimbing manusia menuju sifat welas asih dan kesempurnaan lahir bathin karena ajaran ini dilandasi oleh ajaran Tatwam asi yang memandang semua mahluk adalah sama, saling merasakan, saling terkait, dan saling memerlukan sehingga akan tercipta penghargaan terhadap nilai dan harkat kemanusiaan. Kalau ini dapat dipahami dan dilakukan oleh setiap orang, niscaya kejahatan yang menistakan martabat manusia oleh manusia lainnya tidak akan pernah terjadi.
g. Senjata panah Lubdaka disimbolkan sebagai “manah” atau budhi atau pikiran dan hati, yang diburu adalah binatang atau satwa yang berarti “sattwam”. Dengan demikian yang diburu adalah budhi sattwam atau kemuliaan. Dalam realita sekarang, seberapa banyakkah manusia yang masih memburu kemuliaan. Kenyataan yang sering kita saksikan adalah manusia berlomba-lomba memburu kenistaan hidup dengan bentuk nafsu serakah, kebohongan, dan amal palsu.
h. Satwa yang diburu oleh Lubdaka adalah Gajah, Badak, Babi Hutan. Gajah dalam bahasa Sansekerta disebut asti yang bermakna astiti bhakti. Badak atau warak bermakna tujuan, dan babi atau waraha mengandung makna wara nugraha. Dengan demikian ketiga binatang buruan tersebut mengandung makna bahwa Lubdaka dengan pikirannya yang dijiwai oleh budhi sattwam senantiasa melakukan perbuatan berdasarkan astiti bhakti yang bertujuan untuk mencapai kebahagiaan berdasarkan waranugraha dari Sanghyang Siwa (konsep sweca bhakti).
i. Makna lainnya, Kolam (air telaga) ibarat cermin diri, kita akan melihat siapa “diri” kita. Malam itu Lubdaka naik pohon dan metik daun bila dan takut jatuh sehingga ia tidak tidur terjaga sampai fajar menyingsing. Malam bermakna gelap (awidya, bodoh), naik pohon (meningkatkan diri), daun bila (bilah/lontar, widya, ilmu pengetahuan), takut jatuh bermakna tidak ingin kembali terperosok ke tempat hina dan tidak tidur atau terjaga, bermakna dengan penuh kesadaran dalam mencapai tujuannya, dan fajar menyingsing pertanda timbulnya terang. Petikan daun bila sebanyak 108 lembar bermakna kelipatan angka 9 yang angka tertinggi dikalikan 12 (sasih) yang artinya tuntutlah ilmu pengetahuan tertinggi dalam setahun yang bermakna tuntutlah ilmu pengetahuan sepanjang hidupmu (long life education). Kegelapan atau kebodohan dapat diatasi dengan cara menuntut ilmu, dengan sungguh-sungguh dan waspada, dan tidak ingin kembali bodoh, dengan begitu hidup kita akan lebih terang dan cerah. Dalam Bhagawad Gita Bg. IV: 36 disebutkan, “walau seandainya engkau manusia yang paling berdosa diantara manusia-manusia yang memikul dosa, dengan perahu ilmu pengetahuan ini lautan dosa akan dapat engkau seberangi”.

4. Hal-hal yang Perlu Direnungkan
Hidup dan kehidupan ini penuh dengan kemungkinan-kemungkinan, sementara, dan tidak mutlak. Semua mengalami utpati, stiti, dan praline atau lair, hidup dan mati. Pada fase “hidup” manusia tidak bias luput dari suka, duka, dan lara yang merupakan hukum alamiah kontradiktif seperti senang-sedih, menang-kalah, bahagia-sengsara, kaya-miskin, tenang-bingung, sehat-sakit, dan sebagainya. Hukum ini harus diskapi dengan rasa tulus ikhlas, artinya harus disadari bahwa ketika sedang sehat, tidak mungkin sakit, tetapi sesungguhnya pada saat itu adalah titik balik menuju sakit. Ketika kaya, rasakanlah kemiskinan karena suatu saat kita akan menuju kemiskinan, ketika naik, berpikirlah cara untuk turun. Kapan dan di mana hal itu terjadi dan menimpa kita, hanya ruang dan waktu yang akan menjawabnya, karena manusia tidak mampu menjawabnya dengan tepat dan pasti. Oleh karena itu, setiap manusia harus merenunginya, mawas diri atau mulat sarira dan selalu mencari jati dirinya melalui pendakian spiritual, dan malam inilah yang paling tepat untuk melakukannya dengan memohon tuntunan dari Sanghyang Ciwa.
Dalam Manawadharmasastra disebutkan:
• “Adbir Gatrani Cuddyati” artinya membersihkan badan dengan air
• “Mano Satyena Cuddyati” artinya membersihkan pikiran dengan kejujuran
• “Budhir Jnanena Cuddyati” artinya membersihkan budhi pekerti dilakukan dengan menuntut ilmu pengetahuan setinggi-tingginya.
• “Atmo Buthatmo Tapobyam Cuddyati” artinya membersihkan atma atau jiwa dilakukan dengan cara pengendalian diri.

5. Penutup
Demikianlah jalan cerita Lubdaka yang dicomot secara sembarangan (karena keterbatasan penulis dan tidak disimpulkan), dan makna-makna yang ditampilkan sangat jauh dari kebenaran, apalagi yang aktual. Sudah barang tentu tulisan yang kacau ini belum dapat dipercaya dan hanya dapat dipakai sebagai pemicu diskusi untuk memperoleh gambaran kebenaran dari dari para peserta dan para pembaca yang telah mapan tentang ajaran mulia Siwa Ratri Kalpa karya Pujangga Besar Mpu Tanakung ini. Suksma.

DAFTAR BACAAN
Dinas Pendidikan Dasar Provinsi Daerah Tingkat I Bali, 1990. Kakawin Siwa Ratri Kalpa
Rasti, Ni Wayan, dkk., 2004. Siwaratri: Tinjauan Sosioreligius dan Filosofis. Surabaya: Paramita.
Swami Prabhupada, Sri Srimad A.C. Bhaktivedanta, 2006. Bhagawad Gita. Jakarta: The Bhaktivedanta Book Trust.

4 responses to “AKTUALITAS MAKNA AJARAN SIWARATRI

  1. artikel nya bagus…. tapi bg blognya terlalu norak …

  2. Swstu, Pak Made..makasi atas masukannya…sebelumnya ada kekeliruan teknis..sukseme

  3. Hmmm…..muantap… (y)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s