Lomba artikel serangkaian saraswati FAK.Ekonomi


Pemaknaan Saraswati yang Berpedoman pada Konsep Tri Hita Karana

            Hari Raya Saraswati adalah perayaan hari diturunkannya ilmu pengetahuan (vidya) dan hari Pawedalan Sang Hyang Aji Saraswati, yang jatuh pada setiap 210 hari dan berdasarkan kalender wuku, kalender Jawa-Bali, yaitu pada Saniscara Umanis wuku Watugunung. Pada hari itu kita umat Hindu merayakan hari yang penting itu, terutama para pamong dan siswa-siswa khususnya, serta pengabdi-pengabdi ilmu pengetahuan pada umumnya. Pada hari itu adalah hari atau waktu yang sangat tepat dan baik untuk memohon kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa agar diagurahkan vidya (pengetahuan) dan kecerdasan, sehingga kita akan terbebas dari avidya (kebodohan) dan menuju ke pencerahan atau kebahagiaan abadi.

Pemujaan Saraswati sebagai dewi yang melambangkan ilmu pengetahuan memang sudah berlangsung sejak dulu kala, sejak orang-orang Arya melahir peradaban Weda di Indiajauh sebelum Masehi. Hal ini mercerminkan betapa umat Hindu sangat menghargai ilmu pengetahuan didalam menjalani hidupnya. Hidup terasa gelap tanpa ilmu pengetahuan. Hidup akan terasa terang, bercahaya, terarah dan lebih mudah dengan ilmu pengetahuan. Hidup akan terasa terang, bercahaya, terarah, dan lebih mudah dengan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu kita semestinya memaknai Puja Saraswati yang dating setip 210 hari dengan penuh kesucian dan kesadaran diri. Pemaknaan itu selanjutnya dapat diimplementasika di dalam kehidupan sehari-hari. Guna mencapai pursa artha yang digunakan untuk pengetahuan (jnana) baik apara widya dan para widya.

Saraswati adalah nama dewi, Sakti Dewa Brahma (dalam konteks ini, sakti berarti istri). Dewi Saraswati diyakini sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widi Wasa dalam fungsi-Nya sebagai dewi ilmu pengetahuan. Dalam berbagai lontar di Balidisebutkan “Hyang Hyangning Pangewruh.”  Di India umat Hindu mewujudkan Dewi Saraswati sebagai dewi yang amat cantik bertangan empat yang melambangkan empat aspek kepribadian manusia dalam mempelajari ilmu pengetahuan: pikiran, intelektual, waspada (mawas diri) dan ego. Di masing-masing lengan, memegang: Wina (Kecapi), alat musik yang melambangkan kesempurnaan seni ilmu pengetahuan.  Kropak (lontar), yaitu Weda, yang emlambangkan universal, abadi, dan pengetahuan sejati, serta sumber ilmu pengetahuan. Ganitri (Mala, Tasbih) melambangkan bahwa ilmu pengetahan tidak akan pernah berakhir sepanjang hidup dan tidak akan pernah habis dipelajari  dan Bunga teratai yang merupakan suatu keindahan yang berada didalam ilmu pengetahuan tersebut.

Pada hari Sabtu wuku Watugunung (Upacara Saraswati) itu, semua pustaka terutama Weda dan sastra-sastra agama dikumpulkan sebagai lambang stana pemujaan Dewi Saraswati. Di tempat pustaka yang telah ditata rapi dihaturkan upacara Saraswati. Upacara Saraswati yang paling inti adalah banten (sesajen) Saraswati, daksina, beras wangi dan dilengkapi dengan air kumkuman (air yang diisi kembang dan wangi-wangian).

Menurut keterangan lontar Sundarigama tentang Brata Saraswati, pemujaan Dewi Saraswati harus dilakukan pada pagi hari atau tengah hari. Dari pagi sampai tengah hari tidak diperkenankan membaca dan menulis terutama yang menyangkut ajaran Weda dan sastranya. Bagi yang melaksanakan Brata Saraswati dengan penuh, tidak membaca dan menulis itu dilakukan selama 24 jam penuh. Sedangkan bagi yang melaksanakan dengan biasa, setelah tengah hari dapat membaca dan menulis. Bahkan di malam hari dianjurkan melakukan malam sastra dan sambang samadhi.

Konsep Tri Hita Karana

 

Perayaan Hari Raya Saraswati berkaitan dengan konsep Tri HIta Karana, sebagian besar masyarakat Hindu menganggap hari raya Saraswati sebagai hari ilmu pengetahuan, padahal hari raya Saraswati merupakan konsep dasar dalam ajaran Tri Hita Karana. Tri Hita Karana bermakna sebagai tiga hal yang mewujudkan kebaikan dan kesejahteraan yakni Parhyangan, yaitu hubungan yang harmonis dan seimbang antara manusia dengan Tuhan; Pawongan, yaitu hubungan yang harmonis antara manusia dengan sesama manusia; dan Palemahan, yaitu hubungan yang harmonis dan seimbang antara manusia dengan alam.

Pemaknaan Saraswati berkaitan dengan konsep ajaran Tri Hita Karana. Masyarakat Hindu saat ini, mulai melupakan akan pencipta mereka ke dunia ini. Hal ini terlihat dari sikap mereka yang jarang sembahyang, tidak bersyukur atas apa yang telah diberikan, dan yang sering mengejutkan lagi adanya masyarakat yang tidak percaya dengan yang namanya Tuhan. Masyarakat mulai melakukan tindakan yang tidak sepatutnya, mulai dari kasus pencurian dimana-mana, kekerasan terhadap sesama, korupsi yang merajalela, dan yang paling parah adalah masalah perusakan alam yang amat merugikan banyak umat. Sesungguhnya alam ini harus  dijaga bukan malah dirusak oleh penebangan liar dan penggunaan daya yang berlebihan yang dapat merusak ozon di dunia ini. Hal ini disebabkan karena sebagian manusia lebih cenderung mementingkan dirinya sendiri dan mencari keuntungan yang lebih (lobha) dari pada mementingkan kehidupan orang banyak dan melupakan ajaran Tri Hita Karana.

Konsep ajaran Tri Hita Karana sebagai pedoman dalam memaknai Hari Raya Saraswati akan menjadikan masyarakat Hindu menuju jalan Dharma sesuai ajaran Sang Hyang Aji Saraswati. Pemaknaan ajaran Tri Hita Karana dimulai dari mewujudkan unsur parahyangan dengan lebih mendekatkan hubungan kita sebagai manusia kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa, yang dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk aktivitas yadnya sebagai persembahan yang tulus kepada Sang Pencipta. Mulai dari pembangunan tempat suci, pelaksanaan upacara keagamaan, pendalaman ajaran agama, kreativitas berkesenian (tari, tabuh, lukis, pahat, dsb.). Sehingga kita dapat meperoleh ketentraman dan perasaan yang damai, karena hanya dengan mendekatkan diri terhadap beliau lah kita bisa memperteguh keyakinan kita dan dapat manyadari untuk apa kita lahir kedunia ini. Kemudian sebagai masyarakat Hindu harus mewujudkan unsur pawongan yaitu dengan cara meningkatkan  toleransi hubungan kita kepada sesama manusia, dengan cara saling memiliki tenggang rasa, beramah tamah, saling menghargai, saling menghormati dan saling mengamalkan ajaran “Tat Twam Asi” (Aku adalah Kamu, Kamu adalah Aku), sehingga tidak akan ada lagi peperangan, perselisihan, tindakan kekerasan kepada sesama, dan yang paling peting lagi tidak ada perseteruan akibat Suku, Agama dan Ras. Dan yang tidak kalah penting lagi dengan cara mewujudkan unsure palemahan dengan cara, pada hari raya Saraswati ini kita lebih bisa mendekatkan diri kita dan menghargai alam atau lingkungan sekitar kita, agar alam yang kita gunakan sebagai tempat kita memperoleh kehidupan tidak hancur dan masih bisa dinikmati oleh keturunan-keturunan kita.

Pada hari raya Saraswati ini kita sebagai makhluk paling sempurna harus lebih mengamalkan konsep ajaran Tri Hita Karana sebagai pedoman dalam menciptakan suatu keharmonisan antara sesama manusia, alam, dan Ida Sang Hyang Widi Wasa. Sehingga masyarakat Hindu bersedia membuka diri untuk lebih memikirkan pentingnya alam, kehidupan sesama manusia, dan rasa syukur kepada Sang Hyang Widi Wasa sebagai pencipta untuk memperoleh spirit agar dapat mewujudkan dasar keselarasan sebagi umat Hindu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s